Cahaya terindah & pelipur laraku tak lain Raka Wijaya. Dia adiku ke-2 yg du2k di kelas 1 SD. Yg bisa buat aku marah, tersenyum, nangis, mengharu biru & bisa mengeluarkan segala rasa yang aku punya.
Selagi mata terindahnya belum terpejam, aku dibuatnya marah, emosi, tak dapat mengendalikan diri, teriak2. Aq sudah menganggapnya wajar karna adiku yg satu itu selalu saja memancing diri ini untuk melakukanya.
Bandel, tidak mau diatur, melawan, malah kata orang2 dia nakal. Meski demikian, aku tahu kalau dia memiliki potensi luar biasa. Mungkin hanya perlu kesabaran, ketelatenan, perhatian lebih.
Aku sudah mencobanya, tapi tetap tidak bisa. Apalagi selalu dibayangi dengan ketidakmauanku untuk mengemban tanggung jawab yg teramat berat. Aku berpikir merawat adiku yg sedemikian rupa bukan kewajibanku. Aku tidak rela maja lajangku habis untuk merawat adik. Aku tidak peduli mau dianggap egois, tidak perhatian, tidak sayang atau apalah.
Yg aku ingin rasakan, menjadi diriku yg tidak terdesak oleh keadaan.
Mau dianggap tidak dewasa, terserah! Kalau cuma ngomong itu mudah, actionnya yg terlalu sulit meskipun telah berusaha.
Saat adiku terlelap di sebelahku.... air mata selalu mengalir, menyesali apa yg telah aku lakukan ketika matanya terjaga. Ingin selalu mendekapnya, melakukan apapun demi kebahagiaanya, menciumnya. Aku senang saat2 terindah itu. Aku dan adiku tak ada kata2, tak ada perlawanan, tak ada teriakan2, tak ada kemarahan, hanya satu yg membuat aku dan adiku berkomunikasi yaitu dengan hati.
Tadi,,,dia membuatku haru. Aku bilang sama dia, kalau malam aku selalu sayang adik tapi kalau siang sampe sore pasti marah2. Di luar dugaan, dia mengerti apa yg aku bicarakan. Lalu dia tersenyum & aku rasa dia dapat bersikap lebih baik.
Tiba2 saja dia bilang kalau aku pada saat mengaji Al-qur'an itu suaraku bagus & dia suka. Hah,,,aku hanya tersenyum, menahan tangis, & bangga dengan dia. Lalu aku peluk & kucium dia dengan kasih.
Selagi mata terindahnya belum terpejam, aku dibuatnya marah, emosi, tak dapat mengendalikan diri, teriak2. Aq sudah menganggapnya wajar karna adiku yg satu itu selalu saja memancing diri ini untuk melakukanya.
Bandel, tidak mau diatur, melawan, malah kata orang2 dia nakal. Meski demikian, aku tahu kalau dia memiliki potensi luar biasa. Mungkin hanya perlu kesabaran, ketelatenan, perhatian lebih.
Aku sudah mencobanya, tapi tetap tidak bisa. Apalagi selalu dibayangi dengan ketidakmauanku untuk mengemban tanggung jawab yg teramat berat. Aku berpikir merawat adiku yg sedemikian rupa bukan kewajibanku. Aku tidak rela maja lajangku habis untuk merawat adik. Aku tidak peduli mau dianggap egois, tidak perhatian, tidak sayang atau apalah.
Yg aku ingin rasakan, menjadi diriku yg tidak terdesak oleh keadaan.
Mau dianggap tidak dewasa, terserah! Kalau cuma ngomong itu mudah, actionnya yg terlalu sulit meskipun telah berusaha.
Saat adiku terlelap di sebelahku.... air mata selalu mengalir, menyesali apa yg telah aku lakukan ketika matanya terjaga. Ingin selalu mendekapnya, melakukan apapun demi kebahagiaanya, menciumnya. Aku senang saat2 terindah itu. Aku dan adiku tak ada kata2, tak ada perlawanan, tak ada teriakan2, tak ada kemarahan, hanya satu yg membuat aku dan adiku berkomunikasi yaitu dengan hati.
Tadi,,,dia membuatku haru. Aku bilang sama dia, kalau malam aku selalu sayang adik tapi kalau siang sampe sore pasti marah2. Di luar dugaan, dia mengerti apa yg aku bicarakan. Lalu dia tersenyum & aku rasa dia dapat bersikap lebih baik.
Tiba2 saja dia bilang kalau aku pada saat mengaji Al-qur'an itu suaraku bagus & dia suka. Hah,,,aku hanya tersenyum, menahan tangis, & bangga dengan dia. Lalu aku peluk & kucium dia dengan kasih.
Komentar