Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Aku Takut

Sebenarnya apa yang kucari selama ini darimu? Apa yang membuatku begitu takut kehilanganmu? Padahal begitu jelasnya, kau telah berbeda. Kau tak lagi sama dengan sebelum-sebelumnya. Tapi kenapa masih saja aku ingin melakukan segala hal demi kebahagiaanmu? Kenapa mati-matian menghapus pikiran burukku terhadapmu? Kenapa ketika putus asa, masih saja berusaha bangkit demi melanjutkan proyek untuk kuberikan padamu? Padahal belum tentu kau suka. Belum tentu kau menghargainya. Mungkin malah menganggap apa yang akan kuberikan ini tak ada artinya sama sekali. Parahnya, kau akan menganggap karyaku itu karya kacangan. Ketakutanku selalu menyertai. Tetapi kenapa sampai detik ini aku juga takut menghentikan proyek yang kubuat khusus untukmu? Aku harus bagaimana? Aku sudah tak ada daya dan upaya? Maafkan aku gusti tentang hatiku yang banyak ketaktulusan,, Aku takut dengan segala resiko yang akan terjadi. Terlebih yang melatarbelakangi semua ini adalah karena aku takut kehilangan orang yang...

This is My Life

Pusing aku dengan mereka. Kecewa aku dengan penilaiannya. Setelah menyelesaikan sebuah proposal, aku sudah punya feeling kalau hal ini akan terjadi. Aku merasa aku akan kecewa setelah pengorbanan yang telah aku lakukan demi organisasi itu. Waktu, tenaga, pikiran. Alhasil, secara tak sengaja ia mengungkapkan apa yang telah ia rasakan. Katanya aku terlalu menyetir sang ketua yang belum bisa. Aku tak akan membenarkan sikapku selama ini. Mungkin ini juga sebagai masukan agar aku lebih baik lagi. Meskipun mencoba untuk menerima semuanya, tetap saja aku merasa kecewa. Buruknya, kata-kata itu selalu terngiang dalam pikirku. Sampai seberapa dewasa aku menyikapi hal ini. Sabar... sabar... Tak mudah memahami orang lain yang mempunyai beraneka ragam karakter. Aku akan mencoba lapang dada dengan semua yang terjadi. Terlebih aku akan mulai mengontrol, sikap, sifat serta ucapanku. Mungkin, aku terlalu banyak menuntut ke orang-orang itu untuk mengabulkan semua keinginanku. Mungkin aku terlalu b...

Saling Memahami

Saat aku membaca pesan singkat darinya, sedikit berbangga hati. Senyumpun tak kuasa menanti. Puji syukur terucap pada ilahi rabi. Permintaan yang lumayan sulit ia kirimkan lewat sms. Senyum bahagia kala itu. Kusimpulkan, ternyata aku masih berguna. Mungkin permintaannya sedikit memberatkan, tapi karena aku masih sayang dengannya seberat apapun akan kulakukan. Setidaknya ada anggapan eksistensi diri di hadapannya. Bukankah itu yang selama ini harapanku? Diakui jika aku ada. Apakah itu salah? Apakah itu tak tulus? Tapi, aku manusia. Bukan malaikat yang selalu tunduk. Maaf, sebatas itu tingkat keikhlasanku. Tak usah munafiklah, semua orang termasuk kamu juga perlu apresiasi terhadap apa yang telah kita lakukan. Tenang saja wahai jiwa-jiwa yang tenang! Aku tak pernah lupa dengan orang yang telah memberiku kebahagiaan. Aku selalu ingat seberapa besar kau curahkan semua untukku. Pesanku, jangan sekali-kali kau ciptakan sifat burukmu nyata di hadapanku. Itu saja. Terus apa kabar dengan ...

Maaf Raka

Sumpah aku sangat menyesal! Aku menyesal melihat adikku sangat putus asa saat kesulitan dalam belajar. Kenapa ngga dari dulu kuperhatikan belajarnya? kenapa aku begitu egois hingga membuat adikku menderita? maafkan aku dek... Aku percaya adikku mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Sayangnya, aku tak pernah mengajarkanya atau mengasahnya dengan rajin belajar. Aku selalu membiarkannya begitu saja. Saat itu aku menganggap jika dengan pengalamannya sendiri, kemampuannya akan bertambah. Tapi sebaliknya, adikku sampai kelas dua sd ini, tak tahu apa-apa. Padahal kurikulum sekarang semakin sulit. Ketika dia mulai putus asa, aku semangati dan memberinya nasehat. Ayo semangat! kamu pasti bisa dek! Aku bilang ke dia, jika aku punya adik yang luar biasa yang patut aku pamerkan ke teman-temanku suatu saat nanti. Dia begitu semangat mendengarnya. Kemudian melanjutkan kembali belajar. Tapi tak beberapa kemudian, dia mulai putus asa lagi, karena materi yang tidak dia pahami. Lalu, aku kemba...