Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Untuk Ibu

Siapakah orang pertama yang kau ingat ketika sedang rapuh? Siapa yang pertama kali ingin kau peluk ketika kau sedang mendapatkan keberhasilan? Siapa yang ingin kau cium saat pertama kali kau ingin mencurahkan kasih? Siapa yang inginkan pendapatnya ketika kau bingung dalam beberapa pilihan yang harus kau tentukan? Siapakah orang yang kau harapkan lindungannya ketika kau mengalami konflik hebat? Siapakah yang kau ingat pertama kali ketika kau sedang mengalami keputus-asaan? Aku jawab dengan tegas : “IBU” Yupz,,, ibu yang pertama kali ingin ku beri kabar, ketika ku berhasil mencapai prestasi. Pelukannya yang kudamba,kala aku bingung menentukan pilihan; depresi dengan semua konflik kehidupan; putus asa ketika tak kunjung menyelesaikan kewajiban. Ya sekali lagi,,, Ibu adalah orang yang pertama kali yang ingin ku curahkan segalanya entah sedihku ataupun sukaku. Aku benar-benar rindu ibu ya rabb…. Aku hanya bisa mendengar suaranya, tanpa melihat ataupun bersentuhan. ...

Aku Motivator

Jangan hanya ‘ingin’ tapi tidak ‘lakukan’. Jangan hanya bermimpi setinggi langit tapi riilnya serendah jarak kaki dengan tanah. Kau bisa ulya… Ingat kata bu dewi!! “Orang lain bisa, kenapa kamu nggak bisa?” camkan itu baik-baik ulya! Buatlah semua kata baik adalah do’a. Jadikan kata-kata mutiara sebagai landasan dalam menyemangati perjalanan hidup. Tetaplah berikan yang terbaik untuk dirimu sendiri, orang tua, orang lain serta segala hal. Perubahan untuk menuju ke tingkat lebih baik tidak mudah. Semua membutuhkan apa yang namanya proses. Jika Allah berkehendak maka tidak ada yang la yumkinu (baca:tidak mungkin). Percayalah dengan keyakinan dirimu sendiri tanpa mengacuhkan kritik atau nasehat dari orang lain. Thank’s habib… Di malam yang penuh gejolak ini, kau tuntun aku menemukan semangatku lagi… Kau sahabatku yang paling the best (hahahaha) yang lain jangan pada iri ya… Semua sahabatku mempunyai arti sendiri-sendiri dalam hidupku kok. Habib, Mala, Rani, Thank’s banget so...

17 Agustus 1945

Sebagian manusia lain menganggap hari ini adalah hari bersejarah. Di mana hari ini adalah peringatan HUT RI ke- 65. Yach… 65 tahun yang lalu Indonesia diploklamirkan menjadi sebuah negara yang merdeka. MERDEKA !!!!! Kata itu sangat berarti sekali pada masa itu. Setelah hampir 3,5 abad dijajah Belanda. Pun belum ditambah masa penjajahan Portugis, Inggris, Jepang, dll. Bersyukurlah aku tidak mengalami masa-masa itu. Meskipun demikian, jangan sampai kita menutup mata adanya pengorbanan dan perjuangan semua orang (yang sekarang kita sebut pahlawan) pada waktu itu. Bayangkan saja… hanya untuk memperjuangkan status menjadi negara yang merdeka, berapa volume darah yang bercecer? Berapa nyawa yang mengangkasa? Berapa kekayaan negeri tercinta ini musnah? Tak perlu membayangkan yang berat-berat. Cukup membayangkan yang bisa kita bayangkan saja, begitu hebatnya pahlawan kita. Sungguh kita sekarang ini adalah manusia yang beruntung. Ok… sedikit mengobarkan semangat nasionalisme. Bukan karena ...

Tentang Rasa

Kau tak tahu kan, sekarang kakiku sakit? Kau tak tau kan, bagaimana setiap detikku memikirkanmu? Dan bahkan kau tak tau kan, jika di hatiku cuma ada namamu. Sedangkan namaku sendiri telah lama aku abaikan. Tak menuntut kau memahamiku dengan sangat bijak. Tak memaksa kau mengerti dengan segala yang kumau. Terserah kau saja yang sedang jauh di sana. Penuh kesadaran kita tak akan bersama selamanya. Teringat tentang ucapan seorang guru, jika segala yang ada di dunia hanyalah semu. Hanya tipuan. Tak kekal abadi karena segalanya dapat berubah-ubah sesuai berlalunya waktu. Tak terkecuali kau. Aku yakin dengan dzat yang membolak-balikkan hati, Jika Dia berkehendak, suatu ketika aku cinta kau, lalu di saat itu juga aku dapat membencimu. Itulah kehendak dari sang pencipta. Takdirku bertemu denganmu lagi tak bisa kupersalahkan. Pun rasaku padamu tak patut dipersalahkan. Biarlah semua mengalir seperti air. Meskipun segala harapan memusnah, tak lain ingin selalu bersamamu dalam setiap waktu. ...

Tak Sopan

Tak sopan jika malam lalu kau dalam bayang. Tak beradap jika ruhmu bersamaku dalam pengap. Tak seharusnya kau isi imajinasiku dalam wujud kesertaan hasrat. Jika saat itu aku diskripsikan kebersamaan kita berasa terbang melayang. Namun, hanya dalam sudut pandang asaku yang tak berujung. Rajuk inginku, kau juga sama seperti apa yang sedang kunikmati. Tentunya kita bersama. Tak ada dia, ia, ataupun mereka. Ya…. hanya kita serta Dia Sang Pencipta. Kukatakan kau sangat sempurna. Ku katakan kau tiada duanya. Kukatan kepada semua orang, kaulah pilihan. Kebersamaan kita hanya dalam durasi pendek. Entah hanya hitungan menit kau bersamaku. Kutahu semua itu semu. Kutahu semua itu hanya kepintaran otakku yang membuatku ada bersamamu. Maafkan aku telah melakukannya. Maafkan aku tak menuruti otak dan hatiku untuk mencegahnya. Maaf… sekali lagi maaf. Aku tahu, itu keliru. Malamnya kau kirimkan short message service untuk mengucapkan selamat tidur dengan kau sertakan tawa. Tak tahu apa artin...

Sepertinya Aku Menggila

Aku seperti orang gila. Aku takut kehilangan semua. Terlebih aku takut akan mati sebelum aku meraih semua harapan dan cita-cita. Bagiku semua begitu kosong. Tak ada yang bisa lagi aku lakukan. Tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku begitu takut. Sementara ini diriku mengalami kekrisisan. Krisis segalanya. Terlebih sekarang aku mulai menyalahkan diri sendiri. Merasa bahwa selama ini aku tiada guna. Merasa tiada lagi yang dapat menghargai segala yang telah aku lakukan. Merasa tak ada lagi yang sayang, perhatian, atau cinta kepadaku. Sebenarnya, tentang perasaan itu bagiku tidaklah menjadi soal. Yang aku pikirkan kenapa dan kenapa aku tak bisa berguna bagi diriku sendiri. Aku terlalu malas untuk segala hal. Dalam hati nuraniku yang paling dalam aku tidak ingin demiakian. Tapi sekali lagi, aku tak bisa berbuat apapun. Sebenarnya aku butuh apa? Butuh siapa? Menurutku saat ini hidupku kosong. Tak ada yang bisa aku lakukan. Aku tidak ingin putus asa. Aku ingin bangkit. Aku bisa d...

Sedikit Keluh

Kabar terbaru tentang diriku saat ini, sangat menyedihkan. Aku mengalami masa kemiskinan. Miskin semangat. Miskin kecerdasan. Miskin harta (haha… ini mah sudah sering) Inilah masa-masa di mana aku seharusnya menempati kedewasaan dengan segala konsekuensi. Dewasa dalam segala hal. Ini bukan pilihan maupun apalah itu. Aku menjadi individu yang pincang dengan pengalaman. Bahkan aku sendiri tak bisa mengartikan kondisiku saat ini. Masih diliputi pengetahuan yang sangat kedil. Keadaan sebenarnya, menuntutku untuk sempurna. Tapi jauh dari harap, jauh juga dari sempurna. Oh… oh… oh… Dulu sesering mungkin aku menyalahkan diri sendiri. Kenapa segala yang kupunya tak bisa kugunakan secara optimal? Haha… kenapa? Kenapa kawan ? Padahal mengingat sedikit konsep dari seorang filsuf, setiap manusia yang terlahir di dunia ini memiliki apa itu yang namanya potensi. So,,,kenapa? Potensiku tak berfungsi? (Yang tau jawabannya, sms aku yach… 085640199197)

Kepastian Statusku

Pasti kau tak ingin tahu kan, bagaimana sayangku kepadamu? Bagaimana pengorbananku untukmu? Pasti kau juga menganggap semua yang kulakukan biasa saja. Seperti teman-temanmu yang lain. Bedanya aku terlalu norak, karena sangat menunjukkan kekaguman berlebihan kepadamu. Aku tak akan menyalahkanmu. Ini semua adalah proses. Ini semua harus kulalui. Tapi, sialnya aku yang selalu kebagian menjadi aktris kalah. Alias Aktris yang sengsara. Hahahaha…. Dulu, aku berharap kau tahu semua. Yach… tahu semua tentang rasaku, pikirku, tangisku, senyumku, setiap detikku. Tapi sekarang, semua bisa aku tangani kawan. Aku punya otak. Aku tak harus selalu menuruti hawa nafsuku. Aku harus menjadi wanita kuat. Meskipun sekuat mbah Marijan sekalipun. Hehehehe….. Aku akui, bayangmu selalu menghantui perjalanan hidupku ini. Kau sungguh berarti dalam hidupku saat ini. Kaulah orang pertama yang aku kabari ketika aku senang ataupun sedih. Tapi, sekarang kau dalam kondisi sebaliknya. Kau sudah terlihat ter...

A People Shadow

Kamis, 16 September 2010 Apakah aku tak bernyali untuk bilang pada dunia, aku pandai? Aku cantik? Aku Jauh di atas segalanya dari orang lain? Tapi apakah benar, jika demikian yang kulakukan bukan keseganan tapi cemoohan orang lain yang akan kuterima? Mungkin aku terlalu mengada-ada dengan semua. Ya benar… hanya berangan-angan layaknya manusia kerdil yang tak memiliki apa-apa. Aku cukup bangga ketika berjalan berdampingan dengan seorang sahabat yang sangat cantik. Aku dapat mengangkat kepala tanpa beban, jika sedang berdiskusi yang saat itu bersebelahan dengan sahabat yang kritis. Aku dapat tertawa sombong ketika semobil dengan sahabat yang kaya. Aku ikut lemah lembut ketika bersama dengan kakakku yang bersahaja. Tapi ketika aku sendiri, aku berjalan terburu-buru di halaman mall karena tak percaya diri. Aku sangat takut berdiskusi jika tidak bersebelahan dengan sahabat yang kritis. Aku tak pernah tertawa bangga ketika hanya bisa naik motor milik bapakku. Aku sangat urakan ketika...