Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Kamu Goblok

Kamu goblok, membuatku menangis tadi sore. Kamu goblok, membuatku membencimu entah sampai kapan. Kamu goblok, membuat rasa sayangku musnah. Kamu goblok, membuatku menutup semua akses komunikasi. Kamu goblok, masih mengatakan sayang setelah lama waktuku terbuang. Kamu goblok, kamu sendiri yang bilang kamu goblok. Tau nggak, kamu bodoh meragukan kesetiaanku. Pasti kamu orang bodoh, membuatku merasa bersalah karena menyebutmu pengecut. Kamu tu bener-bener bodoh, membuatku menghancurkan semua kenangan-kenangan kita. Bodoh kok dipelihara! Barang yang menurutmu so sweet itu, sudah lama pecah berkeping-keping. Barang yang kau belikan untukku itu, putus berceceran waktu aku mengepel. Barang yang kau hadiahkan saat ultahku, sudah kubuang ke gudang. Barang yang selalu kupakai tapi darimu itu akan aku hancurkan. Semua darimu akan kukubur bersama kenangan atau apalah. Kau tidak berguna! Kau bahkan sampah yang tak pantas untuk didaur ulang. Pengen disayang kok nggak sayang? Pengen diperhatika...

Stressssssss

Antara takut, putus asa, setengah pasrah, pusing, bergantian meracuni pikiranku saat ini. Obat yang ada kandungan paracetamolnya tak pernah lepas kukonsumsi tiap harinya. Entah menyembuhkan atau malah menambah toksin di dalam tubuhku, aku tak peduli. Intinya, aku tidak mau merasakan sakit yang berkepanjangan. Inilah hidup, masalah semakin hari semakin tambah and semakin rumit untuk ditaklukkan. Aku masih punya keyakinan jika setiap masalah yang diberi Sang Pencipta penulis blog ini tidak akan melampaui batas kemampuan hambanya. Aku selalu menghibur diri sendiri dengan positif thinking, meskipun masih saja takut. Kalau kuteliti awal mula sakitnya kepalaku karena terlalu banyak berpikir. Orang yang kucintai setengah mati hanya menganggapku sahabatnya dan menyebutku sebagai sahabat yang jahat. Pacarku yang super manja mengharap perhatiannku and menggantungkan status hubungan. Skripsiku yang tak kunjung usai, pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan pengabdian masyarakat belum kuker...

Lagi Lagi Galau

Selama dua hari ini, aku kembali lagi manjalani hidup tanpa semangat. Bukan saja aku sendiri yang merasakan perubahan itu. Namun, orang-orang di sekitarku juga ikut merasakan ketak-semangatanku. Ada yang diam-diam memerhatikanku. Ada yang siap sedia menjadi pendengar setia. Ada yang rela menjadi pelampiasan resahku. Simpulannya, semua yang ada di sekitarku bersimpati. Jika dalam masa yang demikian, aku memang jauh berubah dari yang biasa aku lakukan di kehidupan sehari-hari. Aku lebih suka menyendiri. Aku selalu melampiaskan kekesalanku dengan melakukan hal-hal yang tidak biasanya, seperti: mencuci sendiri motor kesayangan , ngemil yang super gila, murid-murid yg les privat di tempatku aku usir, marah-marah super ga jelas, tetangga yang minta tolong aku acuhkan, yang terakhir yang sudah kulakukan 'ujan-ujanan di depan rumah (wkakaka... kata tetanggaku, aku mpe disebut perawan gemblung). Please dech... kalau aku lagi galau kayak gitu jangan ada yang mendekatiku! Karna saat itu a...

Allah Masih Menyayangiku

Pagi ini yang ada dalam harapku yaitu tak menunda-nunda pekerjaan. Yach.. mungkin itu ungkapan yang tepat untuk menuju perubahan. Kemudian, selalu mendekatkan diri pada Allah, selalu cinta keluarga, yang paling penting mencintai diri sendiri. Tak hanya berucap tapi bertindak. Tak cukup berharap tapi terterap. Di usia 24 tahun ini, aku tak ingin menjadi dewasa hanya secara fisik namun berusaha menjadi dewasa dalam kepribadian juga. Sekarang ini, aku teringat saat browsing menemukan ungkapan blogger seperti ini:"Dewasa itu tidak bertingkah seperti bayi!" Wkakakaka… kalau kamu ga dewasa berarti bayi! Sebenarnya sudah lama aku kecewa dengan perayaan ultahku. Ya.. alasannya karena aku punya harapan yang terlalu tinggi. Namun di kehidupanku tak terlaksana. Sudah sering kugembar –gemborkan. Ya sudahlah.. Nasi tak akan menjadi bubur. Pasti ada hikmah di balik kekecewaanku. Sekarang bukan saatnya menggerutu atau terus berkeluh kesah apalagi meratapi nasib. Tetapi sebaliknya, ...

Never Ending

Aku payah dalam mengolah. Aku payah cepat menyerah. Aku payah mendapati diriku dalam resah. Bagaimana bisa menulis, jika pengetahuanmu cuma itu saja. Coba lihat semua tulisanmu! Perbendaharaan katamu cuma itu-itu saja. Apakah kau tak malu? Terutama kepada sang pencipta kata. Ayolah! Ada sesuatu yang bisa kamu lakukan! Kamu punya potensi ulya! Potensi itu asah saja laksana pisau. Ok.. kamu suka musik. Tapi, apakah kamu pernah berpikir? minatmu ke musik itu apakah sudah bermanfaat secara riil pada kehidupanmu? Kamu suka browsing. Fine! Tapi apakah browsing itu telah bermanfaat atau hanya untuk memenuhi kepuasan kesenangan? Apakah ada manfaatnya untuk bertambahnya ilmu-mu? Kamu cukup tahu jika ilmu itu cahaya. Ilmu itu yang menerangimu di kala gelap. Coba berpikir. Terus berpikir. Manusia itu harus berpikir karena manusia mempunyai suatu kelebihan dari makhluk lainya, yaitu diciptakannya akal. Jujur aku masih bingung dengan perasaanku. Apakah kau masih berharap kepadaku? Kemb...

Gundah

Enaknya ngapain ya? Apa yang layak kutulis di blog ini masih menjadi pertanyaanku setiap waktu. Jika aku baca kembali tulisan-tulisan yang telah aku entri, bisa dikatakan 80% hanyalah pengalaman sehari-hari, curhat, ungkapan perasaan. Mungkin jika ada yang berkomentar : “Lembek banget sich jadi cewek!” Semua melulu soal perasaan. “Apa ga ada yang bisa kamu tulis selain ungkapan perasaan?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah mulai menghantuiku. Lha terus gimana, prinsipku yang terpenting ketika menulis ga mencontek karya-karya orang lain alias tidak menjadi plagiat. Itu saja sudah menjadi kepuasaan tersendiri. Setidaknya blog ini sebagai wadah untuk latihan menulis. Ah…. Biarlah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Apapun yang kamu semua katakan tentang blogku ini, aku akan tetap menulis. Titik. Weeeeeeeeeeekkkk. (emang ada yang komplen begitu ya ul?). *enggak. Lha wong dibaca orang lain pun aku ga tahu!*sok lugu. Tapi aku yakin ada yang membaca. Whehehe… ada yang senyum-seny...

Mimpi itu Pertanda

Mimpi itu pertanda. Tanda jika nanti , besok ataupun lusa ku tak pernah tahu apa yang kan terjadi. Tak terencana tepatnya. Namun, pertanyaan yang selalu menyelimuti setiap jagaku menjalani kehidupan, sebenarnya apa yang akan terjadi antara aku dan kamu? Sebelumnya, pernah di suatu malam bermimpi denganmu. Begini mimpiku waktu itu. Kondisi cuaca yang kurang baik yaitu agak mendung aku, kamu, dan dia merencanakan pergi bersama. Dalam perjalanan pun terjadi suatu rintangan. Entah aku lupa rintangan itu. Kamu memboncengkanku. Kita begitu dekat, sedekat masa kecil kita dahulu. Aku tak tahu saat itu tujuan kita bertiga. Ternyata, setelah sampai ke tempat dimana kau, aku dan dia tuju kusimpulkan jika itu adalah kolam renang umum. Kita bertiga saling menjaga satu sama lain dari makhluk-makhluk adam yang mengganggu. Lalu aku terbangun dari tidurku. Cerita dalam mimpiku itu kurasa cukup sederhana namun efeknya mengesankan. Aku bahagia bisa sedekat dahulu dan bersamamu lagi. Meskipun dalam mimp...

Aku Takut

Sebenarnya apa yang kucari selama ini darimu? Apa yang membuatku begitu takut kehilanganmu? Padahal begitu jelasnya, kau telah berbeda. Kau tak lagi sama dengan sebelum-sebelumnya. Tapi kenapa masih saja aku ingin melakukan segala hal demi kebahagiaanmu? Kenapa mati-matian menghapus pikiran burukku terhadapmu? Kenapa ketika putus asa, masih saja berusaha bangkit demi melanjutkan proyek untuk kuberikan padamu? Padahal belum tentu kau suka. Belum tentu kau menghargainya. Mungkin malah menganggap apa yang akan kuberikan ini tak ada artinya sama sekali. Parahnya, kau akan menganggap karyaku itu karya kacangan. Ketakutanku selalu menyertai. Tetapi kenapa sampai detik ini aku juga takut menghentikan proyek yang kubuat khusus untukmu? Aku harus bagaimana? Aku sudah tak ada daya dan upaya? Maafkan aku gusti tentang hatiku yang banyak ketaktulusan,, Aku takut dengan segala resiko yang akan terjadi. Terlebih yang melatarbelakangi semua ini adalah karena aku takut kehilangan orang yang...

This is My Life

Pusing aku dengan mereka. Kecewa aku dengan penilaiannya. Setelah menyelesaikan sebuah proposal, aku sudah punya feeling kalau hal ini akan terjadi. Aku merasa aku akan kecewa setelah pengorbanan yang telah aku lakukan demi organisasi itu. Waktu, tenaga, pikiran. Alhasil, secara tak sengaja ia mengungkapkan apa yang telah ia rasakan. Katanya aku terlalu menyetir sang ketua yang belum bisa. Aku tak akan membenarkan sikapku selama ini. Mungkin ini juga sebagai masukan agar aku lebih baik lagi. Meskipun mencoba untuk menerima semuanya, tetap saja aku merasa kecewa. Buruknya, kata-kata itu selalu terngiang dalam pikirku. Sampai seberapa dewasa aku menyikapi hal ini. Sabar... sabar... Tak mudah memahami orang lain yang mempunyai beraneka ragam karakter. Aku akan mencoba lapang dada dengan semua yang terjadi. Terlebih aku akan mulai mengontrol, sikap, sifat serta ucapanku. Mungkin, aku terlalu banyak menuntut ke orang-orang itu untuk mengabulkan semua keinginanku. Mungkin aku terlalu b...

Saling Memahami

Saat aku membaca pesan singkat darinya, sedikit berbangga hati. Senyumpun tak kuasa menanti. Puji syukur terucap pada ilahi rabi. Permintaan yang lumayan sulit ia kirimkan lewat sms. Senyum bahagia kala itu. Kusimpulkan, ternyata aku masih berguna. Mungkin permintaannya sedikit memberatkan, tapi karena aku masih sayang dengannya seberat apapun akan kulakukan. Setidaknya ada anggapan eksistensi diri di hadapannya. Bukankah itu yang selama ini harapanku? Diakui jika aku ada. Apakah itu salah? Apakah itu tak tulus? Tapi, aku manusia. Bukan malaikat yang selalu tunduk. Maaf, sebatas itu tingkat keikhlasanku. Tak usah munafiklah, semua orang termasuk kamu juga perlu apresiasi terhadap apa yang telah kita lakukan. Tenang saja wahai jiwa-jiwa yang tenang! Aku tak pernah lupa dengan orang yang telah memberiku kebahagiaan. Aku selalu ingat seberapa besar kau curahkan semua untukku. Pesanku, jangan sekali-kali kau ciptakan sifat burukmu nyata di hadapanku. Itu saja. Terus apa kabar dengan ...

Maaf Raka

Sumpah aku sangat menyesal! Aku menyesal melihat adikku sangat putus asa saat kesulitan dalam belajar. Kenapa ngga dari dulu kuperhatikan belajarnya? kenapa aku begitu egois hingga membuat adikku menderita? maafkan aku dek... Aku percaya adikku mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Sayangnya, aku tak pernah mengajarkanya atau mengasahnya dengan rajin belajar. Aku selalu membiarkannya begitu saja. Saat itu aku menganggap jika dengan pengalamannya sendiri, kemampuannya akan bertambah. Tapi sebaliknya, adikku sampai kelas dua sd ini, tak tahu apa-apa. Padahal kurikulum sekarang semakin sulit. Ketika dia mulai putus asa, aku semangati dan memberinya nasehat. Ayo semangat! kamu pasti bisa dek! Aku bilang ke dia, jika aku punya adik yang luar biasa yang patut aku pamerkan ke teman-temanku suatu saat nanti. Dia begitu semangat mendengarnya. Kemudian melanjutkan kembali belajar. Tapi tak beberapa kemudian, dia mulai putus asa lagi, karena materi yang tidak dia pahami. Lalu, aku kemba...

Slengean

Satu bulan ini sudah kranjingan dengan 3 lagu. Mulai aliran Pop Jadul, Pop, sampai Hip Hop atau apalah. Lebih gilanya lagi malah kesengsem dengan segala produk yang ditawarkan negeri Korea. Lagu yang pertama yang mulai kulirik karena liriknya yaitu 'Kamulah Satu Satunya' dari grup band Naif. Inti lirik tersebut sich tiada lain hanya seseorang itu yang segala-galanya buat kita. Selanjutnya, lagu yang ke-dua yaitu lagunya dari Mahadewi "Satu Satunya Cinta". Hampir sama sih dengan lagunya Naif cuma perbedaannya mungkin sudut pandang penyanyinya. Hehehehehehe.... Tentu penasaran kan dengan lagu yang ke-tiga??? Apa yach?!!!! Penasaran kan? Pasti penasaran toh? yapz... betul! Lagu Nobody dari Wonder Girls (Mantabbbbbbbbbbbzzzzzzzzzzzzzzzzzz..... Cin!) I want nobody nobody but U