Aku payah dalam mengolah.
Aku payah cepat menyerah.
Aku payah mendapati diriku dalam resah.
Bagaimana bisa menulis, jika pengetahuanmu cuma itu saja. Coba lihat semua tulisanmu! Perbendaharaan katamu cuma itu-itu saja. Apakah kau tak malu? Terutama kepada sang pencipta kata. Ayolah! Ada sesuatu yang bisa kamu lakukan! Kamu punya potensi ulya! Potensi itu asah saja laksana pisau.
Ok.. kamu suka musik. Tapi, apakah kamu pernah berpikir? minatmu ke musik itu apakah sudah bermanfaat secara riil pada kehidupanmu?
Kamu suka browsing. Fine! Tapi apakah browsing itu telah bermanfaat atau hanya untuk memenuhi kepuasan kesenangan? Apakah ada manfaatnya untuk bertambahnya ilmu-mu?
Kamu cukup tahu jika ilmu itu cahaya. Ilmu itu yang menerangimu di kala gelap. Coba berpikir. Terus berpikir. Manusia itu harus berpikir karena manusia mempunyai suatu kelebihan dari makhluk lainya, yaitu diciptakannya akal.
Jujur aku masih bingung dengan perasaanku. Apakah kau masih berharap kepadaku? Kembali lagi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Atas dasar apa? Kenyataannya, aku tak mencimtaimu. Kau tahu, aku menyukaimu karena kupikir kamu cowok satu-satunya di dunia ini selain keluarga dan kerabatku yang memberikan perhatian lebih dibandingkan cowok-cowok lain. Pikirku lagi, kau bisa menerimaku apa adanya. Perasaanku, kau masih mencintaiku seperti sebelum-sebelumnya.
Tapi, berjalannya waktu aku mulai ragu. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Apakah kau juga berpikir sama jika akulah wanita satu-satunya yang mau berkomitmen denganmu? Kau mencoba mendekatiku lagi. Lalu untuk apa? Aku sudah jelas-jelas tak mencintaimu. Kau ajak aku menemanimu hadir pada pernikahan teman SMA kita. Tanpa ragu pun aku mengiyakan. Alasanku, aku tak mau mengecewakanmu. Aku tak mau bertanya kepadamu karena aku takut. Aku bahagia ketika kau mengajakku. Sebenarnya, apa yang menjadi harapanku? Aku takut menjalin hubungan lagi denganmu. Aku takut mengecewakanmu untuk yang kesekian kali. Tapi aku sayang kamu.
Sayang sekali, jika film-film ini kuhapus dari folder local disk:d komputerku. Aku mendapatkannya susah. Gimana ga susah kalau caranya dengan mengorbankan banyak waktuku untuk menunggu proses downloadingnya. Semua ini karena modemku yang super duper lemot kayak siput. Di samping itu, film itu terus memberikan kenikmatan yang luar biasa. Whahaha… mata ini selalu dimanjakan dengan artis-artis yang cantik, seksi, pinter, eye candy & profesional. Pokoknya perfecto! Selama belum mendapatkan film aslinya (tidak potongan-potongan dari youtube) aku tak akan menghapus film itu. Meskipun komentar salah seorang teman ketika kuperlihatkan film itu “Wah… ngeri ik”, aku hanya menjelaskan bahwa ini adalah profesionalitas.
Asing saat ini mewakili rasa. Hati tak lagi ada sepenuh jiwa. Semua terwujud karena hilangnya asa. Pengorbanan tak lagi ada. Ketulusan musnah berdalih manusia biasa.
Beranjak dari tidurku yang seperti kerbau aku merasa asing. Semua yang telah terjadi menciptakan sebuah pertanyaan, “Sebenarnya apa yang kucari selama ini?”Aku takjub pada segala dzat yang membolak-balikkan hati. Aku pasrah dengan Dia yang membuat hati ini tak lagi sepi.
Aku butuh dia. Ya… aku butuh dia. Kurabai diri ini dengan pertanyaan, kenapa sampai detik ini aku tak suka dia? Apa karena perasaanku yang menganggap tak ada satupun dari mereka yang memberikan sedikit perhatiannya. Atau apa? Aku lebih suka ia meskipun bermuka dua. Aku lebih suka ia yang rupawan. Kurang lebih setahun yang lalu, hariku selalu diwarnai adanya cinta ia. Indah. Nikmat. Semakin bertambahnya waktu kala itu, semakin kecanduan untuk mereguk efek dari biasnya cinta ia. Sayangnya, suasana hati yang sedang menggebu itu tak dibarengi dengan kegiatan produktif. Menyesal? Of course! Setiap saat selalu membayangkan bagaimana caranya agar kenikmatan sebagai dampak dari kegandrungan cinta itu semakin bertambah?
Terbawa imajinasi. Iya!
Tak berpikir rasional. Memang!
Berkeinginan lebih dan lebih. Always!
Senyum terus saja menyertai. Mengingat kenangan-kenangan indah apa saja yang telah terlalui bersama ia. Terus dan terus berpikir, berimajinasi, melayang bersamanya.
Yach… mabuk cinta.Bukan saja kenikmatan yang terasa. Lama-kelamaan indahnya cinta pun ternodai oleh konflik-konflik. Dari mulai konflik kecil hingga menuju konflik yang super besar. Mulai cemburu kepada siapa saja yang mendekatinya. Merasa takut tak lagi ada perhatianya untukku. Mulai khawatir segala yang berhubungan dengan ia berubah. Kedekatan batin pun mulai luntur. Mulai salah paham. Mulai bertengkar. Mulai tak percaya. Mulai perhitungan. Mulai tak setulus hati melakukan apapun demi ia.
Semua berubah begitu saja setelah setahun yang lalu. Kini yang awalnya aku sangat mencintainya, berubah biasa saja. Awalnya aku percaya setengah mati kepadanya, sekarang penuh curiga. Awalnya aku agung-agungkan sikapnya, sekarang mulai kubusuk-busukkan sikapnya. Apakah semua manusia seperti aku? Apa sebenarnya cinta yang kuusung selama ini? Benarkah hanya obsesi yang selama ini menyertai? Maafkan aku sobat. Aku mencintaimu, tapi sekarang tidak. Aku sungguh mencintaimu dulu. Setahun yang lalu.
Gila! Benar. Aku gila. Jika kau tak membalas perhatianku aku tak akan seperti ini.
Aku payah cepat menyerah.
Aku payah mendapati diriku dalam resah.
Bagaimana bisa menulis, jika pengetahuanmu cuma itu saja. Coba lihat semua tulisanmu! Perbendaharaan katamu cuma itu-itu saja. Apakah kau tak malu? Terutama kepada sang pencipta kata. Ayolah! Ada sesuatu yang bisa kamu lakukan! Kamu punya potensi ulya! Potensi itu asah saja laksana pisau.
Ok.. kamu suka musik. Tapi, apakah kamu pernah berpikir? minatmu ke musik itu apakah sudah bermanfaat secara riil pada kehidupanmu?
Kamu suka browsing. Fine! Tapi apakah browsing itu telah bermanfaat atau hanya untuk memenuhi kepuasan kesenangan? Apakah ada manfaatnya untuk bertambahnya ilmu-mu?
Kamu cukup tahu jika ilmu itu cahaya. Ilmu itu yang menerangimu di kala gelap. Coba berpikir. Terus berpikir. Manusia itu harus berpikir karena manusia mempunyai suatu kelebihan dari makhluk lainya, yaitu diciptakannya akal.
Jujur aku masih bingung dengan perasaanku. Apakah kau masih berharap kepadaku? Kembali lagi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Atas dasar apa? Kenyataannya, aku tak mencimtaimu. Kau tahu, aku menyukaimu karena kupikir kamu cowok satu-satunya di dunia ini selain keluarga dan kerabatku yang memberikan perhatian lebih dibandingkan cowok-cowok lain. Pikirku lagi, kau bisa menerimaku apa adanya. Perasaanku, kau masih mencintaiku seperti sebelum-sebelumnya.
Tapi, berjalannya waktu aku mulai ragu. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Apakah kau juga berpikir sama jika akulah wanita satu-satunya yang mau berkomitmen denganmu? Kau mencoba mendekatiku lagi. Lalu untuk apa? Aku sudah jelas-jelas tak mencintaimu. Kau ajak aku menemanimu hadir pada pernikahan teman SMA kita. Tanpa ragu pun aku mengiyakan. Alasanku, aku tak mau mengecewakanmu. Aku tak mau bertanya kepadamu karena aku takut. Aku bahagia ketika kau mengajakku. Sebenarnya, apa yang menjadi harapanku? Aku takut menjalin hubungan lagi denganmu. Aku takut mengecewakanmu untuk yang kesekian kali. Tapi aku sayang kamu.
Sayang sekali, jika film-film ini kuhapus dari folder local disk:d komputerku. Aku mendapatkannya susah. Gimana ga susah kalau caranya dengan mengorbankan banyak waktuku untuk menunggu proses downloadingnya. Semua ini karena modemku yang super duper lemot kayak siput. Di samping itu, film itu terus memberikan kenikmatan yang luar biasa. Whahaha… mata ini selalu dimanjakan dengan artis-artis yang cantik, seksi, pinter, eye candy & profesional. Pokoknya perfecto! Selama belum mendapatkan film aslinya (tidak potongan-potongan dari youtube) aku tak akan menghapus film itu. Meskipun komentar salah seorang teman ketika kuperlihatkan film itu “Wah… ngeri ik”, aku hanya menjelaskan bahwa ini adalah profesionalitas.
Asing saat ini mewakili rasa. Hati tak lagi ada sepenuh jiwa. Semua terwujud karena hilangnya asa. Pengorbanan tak lagi ada. Ketulusan musnah berdalih manusia biasa.
Beranjak dari tidurku yang seperti kerbau aku merasa asing. Semua yang telah terjadi menciptakan sebuah pertanyaan, “Sebenarnya apa yang kucari selama ini?”Aku takjub pada segala dzat yang membolak-balikkan hati. Aku pasrah dengan Dia yang membuat hati ini tak lagi sepi.
Aku butuh dia. Ya… aku butuh dia. Kurabai diri ini dengan pertanyaan, kenapa sampai detik ini aku tak suka dia? Apa karena perasaanku yang menganggap tak ada satupun dari mereka yang memberikan sedikit perhatiannya. Atau apa? Aku lebih suka ia meskipun bermuka dua. Aku lebih suka ia yang rupawan. Kurang lebih setahun yang lalu, hariku selalu diwarnai adanya cinta ia. Indah. Nikmat. Semakin bertambahnya waktu kala itu, semakin kecanduan untuk mereguk efek dari biasnya cinta ia. Sayangnya, suasana hati yang sedang menggebu itu tak dibarengi dengan kegiatan produktif. Menyesal? Of course! Setiap saat selalu membayangkan bagaimana caranya agar kenikmatan sebagai dampak dari kegandrungan cinta itu semakin bertambah?
Terbawa imajinasi. Iya!
Tak berpikir rasional. Memang!
Berkeinginan lebih dan lebih. Always!
Senyum terus saja menyertai. Mengingat kenangan-kenangan indah apa saja yang telah terlalui bersama ia. Terus dan terus berpikir, berimajinasi, melayang bersamanya.
Yach… mabuk cinta.Bukan saja kenikmatan yang terasa. Lama-kelamaan indahnya cinta pun ternodai oleh konflik-konflik. Dari mulai konflik kecil hingga menuju konflik yang super besar. Mulai cemburu kepada siapa saja yang mendekatinya. Merasa takut tak lagi ada perhatianya untukku. Mulai khawatir segala yang berhubungan dengan ia berubah. Kedekatan batin pun mulai luntur. Mulai salah paham. Mulai bertengkar. Mulai tak percaya. Mulai perhitungan. Mulai tak setulus hati melakukan apapun demi ia.
Semua berubah begitu saja setelah setahun yang lalu. Kini yang awalnya aku sangat mencintainya, berubah biasa saja. Awalnya aku percaya setengah mati kepadanya, sekarang penuh curiga. Awalnya aku agung-agungkan sikapnya, sekarang mulai kubusuk-busukkan sikapnya. Apakah semua manusia seperti aku? Apa sebenarnya cinta yang kuusung selama ini? Benarkah hanya obsesi yang selama ini menyertai? Maafkan aku sobat. Aku mencintaimu, tapi sekarang tidak. Aku sungguh mencintaimu dulu. Setahun yang lalu.
Gila! Benar. Aku gila. Jika kau tak membalas perhatianku aku tak akan seperti ini.

Komentar