Ada apa denganku ya? Kenapa kewajiban sendiri terbengkalai? Apa mungkin keterpaksaan, dan kebosanan terdahulu yang menjadi sebabnya? Atau bukan karena kesadaran dari diriku sendiri? Ada yang bisa membantuku untuk menjawabnya?
Selama 6 tahun aku dituntut untuk menjadi manusia yang taat akan ajaran agama. Jika tak terlaksana, maka aku dapat hukuman. Jika aku lakukan dengan baik, maka aku mendapat pujian. Baik sich,,, tapi apakah didikan seperti itu berhasil? Atau mungkin aku terlalu kebal dengan hukuman? Selama 6 tahun aku menjadi seorang manusia penurut, menerima saja dogma-dogma, tunduk akan kekuasaan sang kyai. Aku lakukan semua itu tanpa hati. Sebenarnya hatiku memberontak, karna aku tak suka diatur. Aku tidak suka orang yang mendikteku. Tapi apakah aku biarkan jiwa dan ragaku terpuruk dalam lembah kemungkaran? Kukatakan dengan tegas, TIDAK! Hanya saja, aku ingin melakukannya sepenuh hati. Tanpa paksaan, tanpa takut akan hukuman. Dengan demikian, aku dapat istiqomah.
Tapi, misalnya tak ada satu orang pun yang memaksa dan mendorong aku untuk melaksanakan semua perintahNya, apakah aku bisa sendiri degan hati melaksanakan perintahNya? Kurasa tidak juga. Kubuktikan dengan hidupku selama 4 tahun ini. Aku hanya melakukan sesuatu yang menurut hatiku benar. Aku hanya melakukan sesuatu dengan menunggu akan hadirnya sepenuh hati. Tapi, alhasil aku menjadi manusia merugi. Semakin hari tidak menjadi manusia baik menurut versiku. Aku menjadi manusia kacau. Aku tak tahu arah. Semua kewajibanku tak kulakukan. Hingga pada detik ini, tak kudapatkan lagi cinta dari ilahi rabbi. Aku ingat pada sebuah syair lagu “Aku jauh,,,Engkau jauh. Aku dekat… Engkau dekat.” Jadi semuanya, yang menentukan hanya diriku sendiri. Aku ingin kembali lagi seperti dulu yang tak hanya harap. Malah sebisa mungkin lebih baik lagi dari yang dulu. Kata seorang teman, aku mempunyai spirit yang kuat untuk merubahnya. Sekali lagi, aku harus merubah hidupku menjadi lebih baik.
Selama 6 tahun aku dituntut untuk menjadi manusia yang taat akan ajaran agama. Jika tak terlaksana, maka aku dapat hukuman. Jika aku lakukan dengan baik, maka aku mendapat pujian. Baik sich,,, tapi apakah didikan seperti itu berhasil? Atau mungkin aku terlalu kebal dengan hukuman? Selama 6 tahun aku menjadi seorang manusia penurut, menerima saja dogma-dogma, tunduk akan kekuasaan sang kyai. Aku lakukan semua itu tanpa hati. Sebenarnya hatiku memberontak, karna aku tak suka diatur. Aku tidak suka orang yang mendikteku. Tapi apakah aku biarkan jiwa dan ragaku terpuruk dalam lembah kemungkaran? Kukatakan dengan tegas, TIDAK! Hanya saja, aku ingin melakukannya sepenuh hati. Tanpa paksaan, tanpa takut akan hukuman. Dengan demikian, aku dapat istiqomah.
Tapi, misalnya tak ada satu orang pun yang memaksa dan mendorong aku untuk melaksanakan semua perintahNya, apakah aku bisa sendiri degan hati melaksanakan perintahNya? Kurasa tidak juga. Kubuktikan dengan hidupku selama 4 tahun ini. Aku hanya melakukan sesuatu yang menurut hatiku benar. Aku hanya melakukan sesuatu dengan menunggu akan hadirnya sepenuh hati. Tapi, alhasil aku menjadi manusia merugi. Semakin hari tidak menjadi manusia baik menurut versiku. Aku menjadi manusia kacau. Aku tak tahu arah. Semua kewajibanku tak kulakukan. Hingga pada detik ini, tak kudapatkan lagi cinta dari ilahi rabbi. Aku ingat pada sebuah syair lagu “Aku jauh,,,Engkau jauh. Aku dekat… Engkau dekat.” Jadi semuanya, yang menentukan hanya diriku sendiri. Aku ingin kembali lagi seperti dulu yang tak hanya harap. Malah sebisa mungkin lebih baik lagi dari yang dulu. Kata seorang teman, aku mempunyai spirit yang kuat untuk merubahnya. Sekali lagi, aku harus merubah hidupku menjadi lebih baik.
Komentar