Langsung ke konten utama

Jenuh atau Ketaktulusan?

Tak lagi ada kerinduan yang menggebu. Tak sedikit pun keinginan ingin bertemu. Kepekaan yang menjadi senjata andalan kita untuk berkomunikasi, telah luntur dengan berlalunya waktu. Mereka-reka pun telah lama pupus dengan mati rasaku kepadamu.
Melihat namamu yang tertulis di facebook, biasa saja. Mendapat sms darimu kurasakan tak ada yang special. Sekarang semuanya begitu kosong. Tentangmu, rasamu, wajahmu, ceritamu, dan segala yang berhubungan denganmu, tak begitu beda dengan yang lain.
Apakah aku telah jenuh denganmu? Ataukah selama ini yang kucurahkan kepadamu tak tulus?
Ketika aku sakit, kau begitu perhatian. Mendengarkan semua keluhanku. Memberikan solusi tentang obat apa yang sebaiknya aku konsumsi. Merasakan segala kemarahanku. Sampai kau mempunyai niat meski sedikit, ingin menjengukku. Padahal jarak kita begitu jauh. Salut dengan semua yang kau berikan untukku.
Kenapa semakin lama, tak ada yang bergetar lagi dalam dadaku. Aku tak bisa merasakan apa yang kau rasa. Aku tak bisa menerka lagi apa yang sedang kau dera. Sahabat,,, maafkan aku? Aku terus mencoba, tapi tetap tak bisa. Berbagai cara telah aku gunakan untuk membuatku suka kepadamu lagi. Mengingat kebahagiaan yang kita buat bersama. Mengenang manisnya bersamamu. Merasa lagi apa yang sudah pernah aku rasa. Tapi sekali lagi aku tak bisa.
Aku tak ingin kau tinggalkan. Aku takut karena sikapku ini, kau akan meninggalkan aku. Aku tak begitu yakin, bagaimana kelangsungan hidupku tanpamu. Tapi untuk saat ini, aku tak rindu. Malas mengirim sms padamu. Malas memberi kabar padamu. Tak ingin mendengar kabarmu. Tak ingin tahu tentangmu.
Kurasakan hatiku semakin jauh dari hatimu. Benar-benar sesuatu yang tak kuharapkan. Apakah penyebab semua ini???????
Yang aku pikirkan, sekarang kau telah memikirkan yang lain dan bukan aku, maka aku jadi menghindar. Apa keenggananku untuk mencurahkan perhatian kepadamu? Kenapa aku tak sayang lagi? Kenapa aku tak bisa lagi mengingatmu? Kenapa aku tak peka lagi kepadamu? Kenapa aku tak bisa menyanjungmu lagi? Kenapa aku tak bisa mendewi-dewikanmu lagi?
Kenapa Ifaaaaaaaaaa??? Aku tak berharap kau tahu. Biarkan saja aku begini. Terjebak dalam pikiranku. Tersesat dengan pemahaman hidupku sendiri. Aku benar-benar tak bisa tahu tentangmu? Dalam imajinasiku, dalam mimpiku, dalam pekaku, dalam rekaanku. Huft,,,, semoga kau tetap bijak dalam menyikapi kegilaanku selama ini. Semua Sang Kholik memberikan jalan lurus untuk kesesatanku ini.
Aku terlalu asik dengan pikiranku sendiri. Pernah karena hanyut dalam pemikiran subjektif, aku menyalahkanmu. Aku marah karena cemburu. Ya allah………. Help me,,,,! Aku memang tak pantas untuk disayangi. Aku ini apa? Seorang manusia yang benar-benar buruk sifatnya. Manusia yang tak bisa tulus. Manusia yang egois. Manusia yang hany aingin memerima balasan yang serupa. Manusia seperti inikah aku?
Sejak dahulu, kenapa tak kudapatkan arti sahabat yang sebenarnya. Semua yang ingin menjadi sahabatku telah kecewa. Aku hanya mau menerima seorang sahabat yang sempurna. Aku tidak bisa menerima sahabat dalam keadaan dalam kelemahannya.
Bersambung……………………………………………………………………………

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coba-Coba

Hwahahahahaha,,,, Senyum lebar fren...Adakalanya kita harus mencoba. Jika gagal ada sedikit kecewa,jika sukses kepuasan tiada berujung. Sudah bosan update status di facebook. Pada awalnya pengen mengalihfungsikanya menjadi diary..,tanpa embel2 apapun. Sekarang,,mau update,mikir dulu kayak mau ujian semester. Banyak kebohongan. Niatnya pengen selalu dikomentari. Malah,,akhir2 nie lagi nguber2 & carmuk artis . Enakan nulis di blog ja..Paling2 yg baca dikit, nulis apapun tanpa embel2, yg pasti bisa tulus bukan karena orang lain.

The Gift

Date: Tuesday, 19 January 2017 Time: 13.08 Yesterday, I am very happy. You know? what make me to be happy? Y, it's the name. *Lol. Malemnya aku memanfaatkan the gift yg Allah berikan dengan mengaplikasikannya in my bedroom. Aku rindu Y. I want of Y. So.. Mulailah aku mengendalikan pikirannya via di alam bawah sadarnya. Aku sedikit ragu, tapi keyakinan yg begitu hebat merajaiku. Kugunakan kekuatanku untuk memempengaruhi pikirannya. Aku hanya minta si Y menelponku.