Saat aku membaca pesan singkat darinya, sedikit berbangga hati. Senyumpun tak kuasa menanti. Puji syukur terucap pada ilahi rabi.Permintaan yang lumayan sulit ia kirimkan lewat sms. Senyum bahagia kala itu. Kusimpulkan, ternyata aku masih berguna. Mungkin permintaannya sedikit memberatkan, tapi karena aku masih sayang dengannya seberat apapun akan kulakukan. Setidaknya ada anggapan eksistensi diri di hadapannya.
Bukankah itu yang selama ini harapanku? Diakui jika aku ada. Apakah itu salah? Apakah itu tak tulus?
Tapi, aku manusia. Bukan malaikat yang selalu tunduk. Maaf, sebatas itu tingkat keikhlasanku. Tak usah munafiklah, semua orang termasuk kamu juga perlu apresiasi terhadap apa yang telah kita lakukan.
Tenang saja wahai jiwa-jiwa yang tenang! Aku tak pernah lupa dengan orang yang telah memberiku kebahagiaan. Aku selalu ingat seberapa besar kau curahkan semua untukku. Pesanku, jangan sekali-kali kau ciptakan sifat burukmu nyata di hadapanku. Itu saja.
Terus apa kabar dengan ungkapan, sebagai teman yang baik marilah saling memahami? Aku tak tahu kabarnya. Tepatnya, aku tak dapat mendeskripsikannya. Saling memahami dalam versi idealnya aku belum menguasainya. Tolong ajari aku! Bukan memghakimiku! Menyimpulkan aku belum dewasa. Terang-terangan menjudge aku seperti anak kecil.
Tahukah kau! Aku benci!
Apa kau ingin tahu kenapa aku benci? Jika tak ingin, berarti kau juga belum bisa memahami aku dong.
Jadi… yang namanya saling memahami itu apa? Hanya menurut versimu yang kau tahu!
Tak usahlah banyak omong! Sedikit bicara, tindakan nyata tercipta!
Komentar