Langsung ke konten utama

Mimpi itu Pertanda

Mimpi itu pertanda. Tanda jika nanti , besok ataupun lusa ku tak pernah tahu apa yang kan terjadi. Tak terencana tepatnya. Namun, pertanyaan yang selalu menyelimuti setiap jagaku menjalani kehidupan, sebenarnya apa yang akan terjadi antara aku dan kamu?

Sebelumnya, pernah di suatu malam bermimpi denganmu. Begini mimpiku waktu itu. Kondisi cuaca yang kurang baik yaitu agak mendung aku, kamu, dan dia merencanakan pergi bersama. Dalam perjalanan pun terjadi suatu rintangan. Entah aku lupa rintangan itu. Kamu memboncengkanku. Kita begitu dekat, sedekat masa kecil kita dahulu. Aku tak tahu saat itu tujuan kita bertiga.
Ternyata, setelah sampai ke tempat dimana kau, aku dan dia tuju kusimpulkan jika itu adalah kolam renang umum. Kita bertiga saling menjaga satu sama lain dari makhluk-makhluk adam yang mengganggu. Lalu aku terbangun dari tidurku.

Cerita dalam mimpiku itu kurasa cukup sederhana namun efeknya mengesankan. Aku bahagia bisa sedekat dahulu dan bersamamu lagi. Meskipun dalam mimpi. Ada suatu kerinduan yang menggebu sahabat kecilku. Aku selalu terngiang dengan mimpiku itu, ada apakah gerangan?

Dua hari berselang, apa yang terjadi? Aku berjumpa denganmu. Kau yang lebih dahulu menyapaku. Aku dan kamu sedang mengendarai motor. Kau begitu tulus menyapaku dengan senyuman lebar. Kau memanggil namaku. Aku kaget, lalu diam karena tertegun bahagia. Tak dapat berkata apa-apa karena bahagianya. Lalu kujawab sapaanya meskipun terlambat. Mungkin bagimu itu biasa namun bagiku itu sesuatu yang membuatku sangat bahagia.

Selanjutnya, aku akan bercerita tentang mimpiku baru-baru ini. Inilah tujuan awalku membuat tulisan ini. Tiga hari yang lalu, aku bermimpi bersamamu lagi. Ups… ternyata aku lupa kronologisnya. Intinya di mimpi itu, kau dan aku begitu dekat sekali seperti layaknya keluarga yang saling menyayangi.

Aku tersenyum sendiri ketika aku beranjak dari tidurku. Ada apa ya? Kenapa ya aku mimpi bersamamu? Ada apa? Doaku dalam hati, semoga ini adalah tanda kebaikan.

Sehari kutunggu tak ada apa-apa. Waktu itu, kusimpulkan jika mimpiku hanyalah serangkaian bunga tidur. Namun tetap saja penasaran, dengan apa yang akan terjadi? Hari berikutnya, mungkin sudah mulai lupa dengan mimpiku itu. Tak lagi kupikirkan mimpi yang selama ini menghantui setiap detikku menjalani hidup.

Malamnya, tepat sebelum jamaah isha dimulai inilah awal cerita. Inilah jawaban dari isyarat mimpiku. Aku melihatmu datang menuju masjid. Seperti judul acara di tv swasta, aku H2C (Harap Harap Cemas). Aku tiba di masjid terlebih dahulu. Kugelar sajadah panjang untuk tempat sujudku. Ada sedikit harapan, semoga kamu di sebelahku ketika bersujud nanti. Aku sudah berjaga-jaga menantimu agar kau berada di dekatku. Paling tidak itu usahaku.

WHahahaha… Jarak 3 meter aku sudah tersenyum kepadamu berharap sekali kau membalasnya. Namun, kau diam saja. Lalu sekitar 1,5 meter jarak kita, kau tersenyum lebar memanggil namaku.

Aku bilang ke dia:”Ya allah.. dari tadi tak panggil kok ga dengar?”.
Dia menjawab:”Ga kelihatan mul, kan sudah mudeng jika saat kamu sapa, aku kok diem aja, itu tandanya ga pake softlens’’ (dia sambil senyum).
Aku sangat-sangat memaklumi.

Cepat-cepat aku bertanya sekenanya: “Tumben jamaah? Ga kerja toh?”.
Dia menjawab:”Kan dah pulang…”
Aku hanya tersenyum.

Aku sudah mulai menduga jika berjamaah dekat denganya akan lebih seru dengan cerita-cerita baru. Hahaha…. Kita ngobrol ngalur ngidul mpe tiba saat jamaah isha. Kita bersama melaksanakan sholat isha.

Seusai sholat kita bersalaman. Sekali lagi ketika dia menjabatku, tak lupa menyertainya dengan senyum yang tulus. Lalu kita menjalankan ritual dzikir seperti biasa. Saat waktunya do’a, aku selesai lebih dulu, lalu melihatmu sedang berdo’a. Lumayan lama aku menunggumu, ternyata kau masih saja berdo’a dengan khusuk. Hatiku berkata: "Dah cantik, khusuk … banget kalo doa". Mengesampingkan pandangan buruk dari beberapa orang tentang dirinya.
Halllooooo… semua… kamu semua salah menilai!
Aku yakin kamu salah ngejudge kawan kecilku ini! Ni… buktinya!
Ini loh sisi baiknya ketika dia berhadapan dengan sang kholik, dia begitu khusuk.
Mulai agak kesel dengan orang-orang yang memandang kau agak bebas ketika bergaul. Tapi… wallahu a’lam. Yang terpenting, aku menilaimu lain.

Menunggu saat sholat tarawih agak lumayan lama, aku mempunyai kesempatan untuk kembali lagi bertukar kabar. Hahaha… Tiba-tiba… kau memelukku. Ya… memelukku. Aku hanya diam, lalu senyum terlambat. Setelah dia melepaskan pelukannya, dia kembali memelukku. (Alamaaaaaaaaaaaakkkkk… senengnya gusti…) dia bilang nyaman ketika memelukku.

Aku yakin ada kerinduan hadir di matamu. Kalau aku, sudah pasti rindu sekali.
Sumpah aku seneng banget. Berharap waktu terhenti atau paling tidak momen tadi terulang lagi… hahaha… ngarep banget yak…

Setelah usai sholat tarawih, ada jeda untuk melanjutkan sholat witir. Biasanya, jeda waktu itu diisi dengan kultum (kuliah tujuh menit).
Apaan tujuh menit, 70 menit eksekusinya. Waduwwwwww…. *Lebay.com.
Tak kusia-siakan kesempatan untuk kembali lagi berbincang. Maaf ya pak… untuk malam ini agak ga memerhatikan ceramah Anda!*hahahaha… Mpe bapak penceramahnya nyindir terang-terangan. Pokoknya mpe mengeluarkan bahasa yang terdengar kasar.
*hahaha… so what gitu loh… yang penting… kamu yang kuperhatikan.

Tiba perbincangan mengenai kabar skripsiku. Waduh… gaswat kie… Aku berkeluh kesah tentang skripsiku. Mulai A sampai Z. Sebenarnya, dia senasib denganku, skripsinya terlunta-lunta. Namun dia sudah berhasil menyiasatinya. Dia dah lulus. Kemudian dia menceritakan pengalamannya menaklukan apa yang namanya skripsi itu. Intinya, dia mengingatkanku: “Mul… harus N.I.A.T!”. Dia bilang kalau niat ga ada dalam dirimu ga akan berhasill. Ok… NIAT.
Mulai sekarang aku niat mengerjakannya kawan… terima kasih kau menginspirasiku….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coba-Coba

Hwahahahahaha,,,, Senyum lebar fren...Adakalanya kita harus mencoba. Jika gagal ada sedikit kecewa,jika sukses kepuasan tiada berujung. Sudah bosan update status di facebook. Pada awalnya pengen mengalihfungsikanya menjadi diary..,tanpa embel2 apapun. Sekarang,,mau update,mikir dulu kayak mau ujian semester. Banyak kebohongan. Niatnya pengen selalu dikomentari. Malah,,akhir2 nie lagi nguber2 & carmuk artis . Enakan nulis di blog ja..Paling2 yg baca dikit, nulis apapun tanpa embel2, yg pasti bisa tulus bukan karena orang lain.

Tentang Rasa

Kau tak tahu kan, sekarang kakiku sakit? Kau tak tau kan, bagaimana setiap detikku memikirkanmu? Dan bahkan kau tak tau kan, jika di hatiku cuma ada namamu. Sedangkan namaku sendiri telah lama aku abaikan. Tak menuntut kau memahamiku dengan sangat bijak. Tak memaksa kau mengerti dengan segala yang kumau. Terserah kau saja yang sedang jauh di sana. Penuh kesadaran kita tak akan bersama selamanya. Teringat tentang ucapan seorang guru, jika segala yang ada di dunia hanyalah semu. Hanya tipuan. Tak kekal abadi karena segalanya dapat berubah-ubah sesuai berlalunya waktu. Tak terkecuali kau. Aku yakin dengan dzat yang membolak-balikkan hati, Jika Dia berkehendak, suatu ketika aku cinta kau, lalu di saat itu juga aku dapat membencimu. Itulah kehendak dari sang pencipta. Takdirku bertemu denganmu lagi tak bisa kupersalahkan. Pun rasaku padamu tak patut dipersalahkan. Biarlah semua mengalir seperti air. Meskipun segala harapan memusnah, tak lain ingin selalu bersamamu dalam setiap waktu. ...