Mengenalmu suatu anugrah. Dekat denganmu suatu yang kutunggu. Perjumpaan awal, kata yang terungkap adalah mendekati perfect. Kutahu wajahmu, gaya bicara, pembawaan diri, cara bersikap, cara bertuturmu,,
subhanaallah….
Hingga pada saat ini. Kujumpai lagi kau dalam dimensi berbeda. Kita lebih dekat. Kita ada feeling, ada kepekaan yang mulai muncul secara tak sadar. Sejauh itu, aku meenyukaimu karna fisikmu. Ketertarikan ini yang melandasi semua menjadi tulus, menjadi suka untuk segala hal. Aku ingin selalu bersama. Menghabiskan waktu hanya berdua denganmu.
Kata-kata tak sadarku pernah terungkap dan sekarang terlaksana, jika suatu hari nanti akan benar-benar bertemu yang indah di saat yang indah. Hubungan awal kurasakan sambutan yang luar biasa. Hingga aku mabuk cinta. Tak sadar ini tidak mungkin. Untuk saat ini kau segala bagiku. Aku tak bisa hidup tanpamu. Akan aku lakukan apa saja untuk membuatmu selalu tersenyum. Jika aku diberikan untuk terlahir kembali, ingin rasanya menjadi sosok berbeda yang bisa selalu menjagamu dari fitnah, dari sakit hati, dan dari kesedihan.
Memang terlihat sinetron banget. Atau mungkin terlalu mengada. Tapi, inilah aku. Aku sudah terlanjur cinta denganmu. Kau isi hatiku yang kering kerontang. Tak ada sejuknya perhatian. Tapi kau memberikannya. Begitu tulus. Selalu mendengar ceritaku, marahku, sedihku, bahagiaku. Saat ini yang ada di hatiku cuma kamu. Setiap detikku, setiap tidurku, dan setiap yang lainnya.
Seandainya saja kau tahu, begitu berarti kau di atas hatiku. Betapa tergantungnya aku terhadapmu. Pasti kau tak percaya. Lalu kau bilang aku telah gila. Kau pasti menjustifikasiku sebagai seseorang yang unlogic. Kau tahu apa yang sedang kulakukan untuk menghilangkan sakit hatimu. Aku merekayasa suatu cerita .Tapi, biarlah ini menjadi rahasia antara aku dan gusti Allah.
Aku memang tak layak mendapat segala yang terbaik. Aku memang tak pantas untuk dikasihi lebih dari yang lain. Seseorang yang sangat aku banggakan cintanya, ternyata sama seperti yang lain. Dialah sang mantan. Aku tak lagi ada harapan dengan siapa aku akan bersanding. Aku ingin hidup normal ya Allah. Sampai detik ini, tak ada yang memberikannya.
Apa aku tak pantas dicintai, dikasihi, seorang hambamu yang sholeh, yang cerdas, yang santun? Apa aku terlalu buruk untuk dapat bersanding dengan hambamu itu. Apa memang apa yang dikatakan seorang penjual arloji benar, jika aku orang yang ingin memeluk gunung, tapi apa daya tangan tak sampai. Sebegitukah pantasnya takdir hidupku ya rabb.
Apa aku tak pantas meraih kebahagiaan dengan mendapatkan yang terbaik? Aku ingin menulis semua kata-kata yang ada dipikiranku hingga kini. Usiaku 23 tahu ya allah…bukan usia kecil. Kupasrahkan semua hidupku untukmu ya Allah. KATAKAN TIDAK PADA MALAS!
subhanaallah….
Hingga pada saat ini. Kujumpai lagi kau dalam dimensi berbeda. Kita lebih dekat. Kita ada feeling, ada kepekaan yang mulai muncul secara tak sadar. Sejauh itu, aku meenyukaimu karna fisikmu. Ketertarikan ini yang melandasi semua menjadi tulus, menjadi suka untuk segala hal. Aku ingin selalu bersama. Menghabiskan waktu hanya berdua denganmu.
Kata-kata tak sadarku pernah terungkap dan sekarang terlaksana, jika suatu hari nanti akan benar-benar bertemu yang indah di saat yang indah. Hubungan awal kurasakan sambutan yang luar biasa. Hingga aku mabuk cinta. Tak sadar ini tidak mungkin. Untuk saat ini kau segala bagiku. Aku tak bisa hidup tanpamu. Akan aku lakukan apa saja untuk membuatmu selalu tersenyum. Jika aku diberikan untuk terlahir kembali, ingin rasanya menjadi sosok berbeda yang bisa selalu menjagamu dari fitnah, dari sakit hati, dan dari kesedihan.
Memang terlihat sinetron banget. Atau mungkin terlalu mengada. Tapi, inilah aku. Aku sudah terlanjur cinta denganmu. Kau isi hatiku yang kering kerontang. Tak ada sejuknya perhatian. Tapi kau memberikannya. Begitu tulus. Selalu mendengar ceritaku, marahku, sedihku, bahagiaku. Saat ini yang ada di hatiku cuma kamu. Setiap detikku, setiap tidurku, dan setiap yang lainnya.
Seandainya saja kau tahu, begitu berarti kau di atas hatiku. Betapa tergantungnya aku terhadapmu. Pasti kau tak percaya. Lalu kau bilang aku telah gila. Kau pasti menjustifikasiku sebagai seseorang yang unlogic. Kau tahu apa yang sedang kulakukan untuk menghilangkan sakit hatimu. Aku merekayasa suatu cerita .Tapi, biarlah ini menjadi rahasia antara aku dan gusti Allah.
Aku memang tak layak mendapat segala yang terbaik. Aku memang tak pantas untuk dikasihi lebih dari yang lain. Seseorang yang sangat aku banggakan cintanya, ternyata sama seperti yang lain. Dialah sang mantan. Aku tak lagi ada harapan dengan siapa aku akan bersanding. Aku ingin hidup normal ya Allah. Sampai detik ini, tak ada yang memberikannya.
Apa aku tak pantas dicintai, dikasihi, seorang hambamu yang sholeh, yang cerdas, yang santun? Apa aku terlalu buruk untuk dapat bersanding dengan hambamu itu. Apa memang apa yang dikatakan seorang penjual arloji benar, jika aku orang yang ingin memeluk gunung, tapi apa daya tangan tak sampai. Sebegitukah pantasnya takdir hidupku ya rabb.
Apa aku tak pantas meraih kebahagiaan dengan mendapatkan yang terbaik? Aku ingin menulis semua kata-kata yang ada dipikiranku hingga kini. Usiaku 23 tahu ya allah…bukan usia kecil. Kupasrahkan semua hidupku untukmu ya Allah. KATAKAN TIDAK PADA MALAS!
Komentar