Kamis, 8 April 2010
23.29 WIB
Badan ini sedari tadi terasa menolak untuk melakukan segala aktivitas. Alhasil, ingin sekali dia istirahat. Aku turuti permintaan tubuh yang agak manja untuk hari ini. Detik berganti menit lalu berganti jam, akhirnya aku merehatkan badan. Meskipun demikian, otak dan mata tak mau kompromi. Otak mengganggu dengan mengantarku ke arah orang-orang terkasih. Sedangkan mata, sekian waktu tak dapat terpejam.
Malam ini aku ingin sedikit berkisah. Tentunya sangat melankolis karena tak jauh berhubungan dengan apa yang namanya cinta. Oh ya… akan aku deskripsikan apa yang dilakukan otakku untuk kembali merayu bertemu kamu. Sebenarnya memikirkanmu telah aku alihkan dengan pikiran tentang instrukturku yang memberikan sedikit perhatian kepadaku. Kemudian imajinasiku tentang suatu cerita yang cukup kumengerti sendiri. Tetap saja otakku tertawa terbahak atas kemenagannya mempengaruhiku untuk memikirkanmu. Cukup sederhana, hanya memikirkanmu.
Otakku mulai mengiring ke masa yang telah lalu saat perjumpaanku denganmu lagi. Aku merasa aku berarti bagimu. Aku merasa kau sangat membutuhkanku. Itu suatu motivasi hingga sampai sekarang misiku harus terus berjalan. Suatu misi yang sebenarnya sangat mengada, tetapi aku berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Tak lain, hanya ingin menjagamu Ipunk. Kemudian hanya ingin membuatmu selalu tersenyum. Realistis kan? Jika kau Tanya,”kenapa aku mempunyai misi seperti itu?”. Jawabku cukup singkat: “Aku tidak tahu”. Hati kecil ini yang mulai mempengaruhi untuk melakukan itu. Naluri kemanusiaan yang selalu menyertaiku. Tak ada alasan yang pasti. Tak ada jawaban yang valid. Mungkin ini takdir. Kehendak sang ilahi untuk membuatku repect padamu. Kuasa Allah yang mempertemukan kita. Keyakinanku juga bertambah hebat, manakala di antara kita cukup peka terhadap apa yang kita rasakan.
Seperti malam ini, saat aku tak jauh memikirkanmu. Tiba-tiba saja kau mengirimkan pesan singkat good nite ulya. Jika kau tahu respon apa yang kuberikan, pasti kau tertawa. Aku menangis terharu. Hahaha….. biarkan saja aku cengeng. Memang kondisinya seperti itu. Aku kemudian berujar dalam hati, untuk saat ini kau anugrah terindah yang dikirm Allah untuk memenuhi hariku. Terima kasih Ipunk.
23.29 WIB
Badan ini sedari tadi terasa menolak untuk melakukan segala aktivitas. Alhasil, ingin sekali dia istirahat. Aku turuti permintaan tubuh yang agak manja untuk hari ini. Detik berganti menit lalu berganti jam, akhirnya aku merehatkan badan. Meskipun demikian, otak dan mata tak mau kompromi. Otak mengganggu dengan mengantarku ke arah orang-orang terkasih. Sedangkan mata, sekian waktu tak dapat terpejam.
Malam ini aku ingin sedikit berkisah. Tentunya sangat melankolis karena tak jauh berhubungan dengan apa yang namanya cinta. Oh ya… akan aku deskripsikan apa yang dilakukan otakku untuk kembali merayu bertemu kamu. Sebenarnya memikirkanmu telah aku alihkan dengan pikiran tentang instrukturku yang memberikan sedikit perhatian kepadaku. Kemudian imajinasiku tentang suatu cerita yang cukup kumengerti sendiri. Tetap saja otakku tertawa terbahak atas kemenagannya mempengaruhiku untuk memikirkanmu. Cukup sederhana, hanya memikirkanmu.
Otakku mulai mengiring ke masa yang telah lalu saat perjumpaanku denganmu lagi. Aku merasa aku berarti bagimu. Aku merasa kau sangat membutuhkanku. Itu suatu motivasi hingga sampai sekarang misiku harus terus berjalan. Suatu misi yang sebenarnya sangat mengada, tetapi aku berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Tak lain, hanya ingin menjagamu Ipunk. Kemudian hanya ingin membuatmu selalu tersenyum. Realistis kan? Jika kau Tanya,”kenapa aku mempunyai misi seperti itu?”. Jawabku cukup singkat: “Aku tidak tahu”. Hati kecil ini yang mulai mempengaruhi untuk melakukan itu. Naluri kemanusiaan yang selalu menyertaiku. Tak ada alasan yang pasti. Tak ada jawaban yang valid. Mungkin ini takdir. Kehendak sang ilahi untuk membuatku repect padamu. Kuasa Allah yang mempertemukan kita. Keyakinanku juga bertambah hebat, manakala di antara kita cukup peka terhadap apa yang kita rasakan.
Seperti malam ini, saat aku tak jauh memikirkanmu. Tiba-tiba saja kau mengirimkan pesan singkat good nite ulya. Jika kau tahu respon apa yang kuberikan, pasti kau tertawa. Aku menangis terharu. Hahaha….. biarkan saja aku cengeng. Memang kondisinya seperti itu. Aku kemudian berujar dalam hati, untuk saat ini kau anugrah terindah yang dikirm Allah untuk memenuhi hariku. Terima kasih Ipunk.
Komentar