Sabtu, 20 Maret 2010
22.29 WIB
Sejak dua hari yang lalu, mulai terlihat perubahan dalam dirimu. Sesuatu yang sudah menjadi rutinitas, begitu saja tak kau laksanakan seperti yang sudah-sudah. Melihat perubahan itu, aku masih berpositif thinking. Segala kemungkinan telah muncul. Mungkin, kamu lagi sibuk dengan pekerjaanmu di rumah sakit ataupun di rumah. Mungkin, kondisi tubuhmu sedang dalam keadaan kurang sehat atau kecapean. Hingga kemungkinan akhir yang menyelimuti otakku adalah kebosanan atau rasa malas sedang menyertaimu hingga tak seperti biasa.
Kemarin, masih saja kau sama seperti hari sebelumnya. Aku putuskan untuk memulai menyapamu. Setiap aku Tanya: “Kamu lagi apa?” selalu tak ada jawaban. Lama, tak ada balance sms kita, kuputuskan untuk menyudahi sms hari itu. Aku dan kau sibuk dengan dunia kita sendiri. Sekitar pukul lima sore, kau mengirimkan sms. Hati yang resah jadi bahagia, badan yang capek jadi semangat lagi. Saat itu, aku akan berangkat aerobic hingga sms terakhirmu terbaca “hati-hati ya”. Jika kau tahu saat itu, yang aku rasakan hanya bahagia yang sangat.
Sekitar pukul delapan aku sms berkali-kali, dengan pertanyaan yang sama. Aku bertanya “Kamu kenapa?” tak ada balasan. Akhirnya suatu ide muncul serta merta hanya bertujuan untuk menghiburmu. Meskipun aku tidak tahu, apa yang saat itu kau rasakan. Di dalam otak dan hatiku yang sadar, aku tak ingin melihat, mendengar, atau merasakan kau dalam kesedihan. Aku ingin kau selalu tersenyum. Itu saja yang bisa membuatku merasa lega. Apakah aku salah, jika aku ingin mendengarmu bahagia, melihatmu terseyum? Aku memulai menawarkan suatu pertanyaan, dengan harapan dapat membuatmu tersenyum. Aku kirimkan sms: ”Kamu pengen apa? mau aku cariin pacar? Mumpung aku lagi baik hati dan tidak sombong nie,,,” sekali lagi, aku ingin menghiburnya. Dia bales smsku, “ogah ah!” dalam hati, aku cukup tersenyum, lalu kembali aku goda, “mbok jangan ogah? mau ya? Lha pengen apa?” dia jawab: “aku pengen ulya ke sini” hehe bercanda” ok.. jawaban itu sangat mengobati kecemasanku. Kesimpulanku, ternyata kamu masih merinduiku.
22.29 WIB
Sejak dua hari yang lalu, mulai terlihat perubahan dalam dirimu. Sesuatu yang sudah menjadi rutinitas, begitu saja tak kau laksanakan seperti yang sudah-sudah. Melihat perubahan itu, aku masih berpositif thinking. Segala kemungkinan telah muncul. Mungkin, kamu lagi sibuk dengan pekerjaanmu di rumah sakit ataupun di rumah. Mungkin, kondisi tubuhmu sedang dalam keadaan kurang sehat atau kecapean. Hingga kemungkinan akhir yang menyelimuti otakku adalah kebosanan atau rasa malas sedang menyertaimu hingga tak seperti biasa.
Kemarin, masih saja kau sama seperti hari sebelumnya. Aku putuskan untuk memulai menyapamu. Setiap aku Tanya: “Kamu lagi apa?” selalu tak ada jawaban. Lama, tak ada balance sms kita, kuputuskan untuk menyudahi sms hari itu. Aku dan kau sibuk dengan dunia kita sendiri. Sekitar pukul lima sore, kau mengirimkan sms. Hati yang resah jadi bahagia, badan yang capek jadi semangat lagi. Saat itu, aku akan berangkat aerobic hingga sms terakhirmu terbaca “hati-hati ya”. Jika kau tahu saat itu, yang aku rasakan hanya bahagia yang sangat.
Sekitar pukul delapan aku sms berkali-kali, dengan pertanyaan yang sama. Aku bertanya “Kamu kenapa?” tak ada balasan. Akhirnya suatu ide muncul serta merta hanya bertujuan untuk menghiburmu. Meskipun aku tidak tahu, apa yang saat itu kau rasakan. Di dalam otak dan hatiku yang sadar, aku tak ingin melihat, mendengar, atau merasakan kau dalam kesedihan. Aku ingin kau selalu tersenyum. Itu saja yang bisa membuatku merasa lega. Apakah aku salah, jika aku ingin mendengarmu bahagia, melihatmu terseyum? Aku memulai menawarkan suatu pertanyaan, dengan harapan dapat membuatmu tersenyum. Aku kirimkan sms: ”Kamu pengen apa? mau aku cariin pacar? Mumpung aku lagi baik hati dan tidak sombong nie,,,” sekali lagi, aku ingin menghiburnya. Dia bales smsku, “ogah ah!” dalam hati, aku cukup tersenyum, lalu kembali aku goda, “mbok jangan ogah? mau ya? Lha pengen apa?” dia jawab: “aku pengen ulya ke sini” hehe bercanda” ok.. jawaban itu sangat mengobati kecemasanku. Kesimpulanku, ternyata kamu masih merinduiku.
Komentar