Kamis, 16 September 2010
Apakah aku tak bernyali untuk bilang pada dunia, aku pandai? Aku cantik? Aku Jauh di atas segalanya dari orang lain?
Tapi apakah benar, jika demikian yang kulakukan bukan keseganan tapi cemoohan orang lain yang akan kuterima?
Mungkin aku terlalu mengada-ada dengan semua.
Ya benar… hanya berangan-angan layaknya manusia kerdil yang tak memiliki apa-apa.
Aku cukup bangga ketika berjalan berdampingan dengan seorang sahabat yang sangat cantik. Aku dapat mengangkat kepala tanpa beban, jika sedang berdiskusi yang saat itu bersebelahan dengan sahabat yang kritis. Aku dapat tertawa sombong ketika semobil dengan sahabat yang kaya. Aku ikut lemah lembut ketika bersama dengan kakakku yang bersahaja.
Tapi ketika aku sendiri, aku berjalan terburu-buru di halaman mall karena tak percaya diri. Aku sangat takut berdiskusi jika tidak bersebelahan dengan sahabat yang kritis. Aku tak pernah tertawa bangga ketika hanya bisa naik motor milik bapakku. Aku sangat urakan ketika sedang sendiri beradaptasi atau bergaul dengan para kawan.
Suatu sikap yang sangat bertolak belakang. Tak bisa menjadi diri sendiri. Melalui waktu dalam bayang-bayang orang lain. Kenapa aku tak pernah bangga terhadap diri sendiri? Setidaknya, jikalau bangga diri tidak baik, paling tidak aku dapat menghargai diri sendiri.
Sampai kapan hidup dalam bayangan orang lain?
Sampai kapan bangga terhadap orang lain?
Sampai kapan aku harus bilang sampai kapan??
Apakah aku tak bernyali untuk bilang pada dunia, aku pandai? Aku cantik? Aku Jauh di atas segalanya dari orang lain?
Tapi apakah benar, jika demikian yang kulakukan bukan keseganan tapi cemoohan orang lain yang akan kuterima?
Mungkin aku terlalu mengada-ada dengan semua.
Ya benar… hanya berangan-angan layaknya manusia kerdil yang tak memiliki apa-apa.
Aku cukup bangga ketika berjalan berdampingan dengan seorang sahabat yang sangat cantik. Aku dapat mengangkat kepala tanpa beban, jika sedang berdiskusi yang saat itu bersebelahan dengan sahabat yang kritis. Aku dapat tertawa sombong ketika semobil dengan sahabat yang kaya. Aku ikut lemah lembut ketika bersama dengan kakakku yang bersahaja.
Tapi ketika aku sendiri, aku berjalan terburu-buru di halaman mall karena tak percaya diri. Aku sangat takut berdiskusi jika tidak bersebelahan dengan sahabat yang kritis. Aku tak pernah tertawa bangga ketika hanya bisa naik motor milik bapakku. Aku sangat urakan ketika sedang sendiri beradaptasi atau bergaul dengan para kawan.
Suatu sikap yang sangat bertolak belakang. Tak bisa menjadi diri sendiri. Melalui waktu dalam bayang-bayang orang lain. Kenapa aku tak pernah bangga terhadap diri sendiri? Setidaknya, jikalau bangga diri tidak baik, paling tidak aku dapat menghargai diri sendiri.
Sampai kapan hidup dalam bayangan orang lain?
Sampai kapan bangga terhadap orang lain?
Sampai kapan aku harus bilang sampai kapan??
Komentar